Skip to main content

#1 Kataindera: Buat Kalian para Generasi Sandwich


Pada tulisan kali ini gue ingin bahas soal sandwich generation, lebih tepatnya bagaimana menyikapi ketika kita emang berada diposisi ini. Mungkin bagi kalian yang masih belum tahu tentang apa itu generasi sandwich dan kenapa gue tertarik untuk ngebahas ini, akan gue jelasin dulu. Karena ini penting menurut gue, kita yang secara udah ditakdirkan diposisi ini harus memiliki persiapan sedini mungkin.


Soal Sandwich Generation, istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Dorothy A Miller pada  tahun 1981. Melalui tulisannya The Sandwich Generation: Adulth Children of The Angingi. Jadi pakdhe Miller ingin menyoroti sekelompok orang yang berada diposisi keharusan merawat orang tua yang sudah berumur dan merawat anak dan istri.


Nah sekelompok orang ini berada dikondisi terjebak dimana harus mengurusi dirinya dan pasangannya serta generasi sebelum dan sesudahnya. Posisi inilah yang membuat mereka disebut Sandwich Generation. Mungkin lebih populer di barat dengan makanan roti yang memiliki aneka isi ditengahnya. 


Jadi bisa dibilang diusia produktifnya mereka harus menanggung beban keuangan orang tua mereka yang sudah lanjut usia dan beban keuangan keluarga mereka sendiri. Udah cukup jelas ya gue rasa.


Buat kalian yang memang sedari awal menyadari atau baru menyadari setelah membaca tulisan ini mohon untuk tidak sedih ya. Karena buat kalian yang memang ditakdirkan berada diposisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Tidak mudah memang apalagi untuk sebagian orang yang mungkin memiliki income pas-pasan. Tapi dari sini kalian setidaknya sudah bisa mempersiapkan diri sedini mungkin. 


Ada beberapa hal yang ingin gue bagikan ke kalian yang berada pada fase generasi sandwich ini. Pertama, mulailah buat perencanaan keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Misalnya perencanaan 1-2 tahun, 3-5 tahun, dan seterunya. 


Mungkin bisa dimulai dengan hal sederhana kaya membuat list kebutuhan bulanan beserta anggarannya, serta usahakan setiap pengeluaran dicatat agar kalian bisa dengan mudah mengkalkulasikan pengeluaran. Pastikan agar uang masuk kalian tidak lebih besar dari uang keluar, serta sisihkan untuk bisa nabung setiap bulannya.


Kedua, fokus ke target income dimana jika income tadi dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan dan perencanaan keuangan kalian. Maka solusinya mulailah fokus untuk mencari sumber income tambahan atau kurangi pengeluaran kalian. Titik.


Caranya bisa dengan mengasah skill tertentu untuk kemudian mencari penghasilan tambahan, buka usaha kecil-kecilan, atau bisa dengan investasiin duitnya. Tapi saran gue kalo kalian masih belum ada tanggungan fokus ke solusi yang pertama aja dan soal pilihan terakhir ini tidak direkomendasikan bagi kalian yang tidak paham sistemnya. Lebih baik belajar terlebih dahulu sebelum bener-bener memutuskan untuk terjun kesana.


Ketiga, buat keadaan ini menjadi tantangan yang memacu untuk berbuat lebih, jjangan manjadikannya beban. Karena mau sebesar apapun usaha kalian kalau merasa terbebani maka akan ngaruh ke kesehatan psikis kalian. 


Menurut gue bekerja keras boleh, tapi jangan lupa untuk terus bersyukur dengan apapaun keadadaan lo saat ini. Inget bahwa kalian ngelakuin ini semua untuk orang-orang yang kalian sayangi, yang itu bisa membuat kalian bahagia. Maka jangan sampe salah memaknai tujuan bahagia kalian sendiri.


Mungkin sekian dulu sharing dari gue dan terimakasih banyak sudah mau membaca tulisan ini. Semoga ada hikmah yang bisa lo ambil. Thank you!


Akhir kata gue tutup dengan mengutip salah satu ayat, begini:


لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ


Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….”(QS. Al Baqoroh: 286)


Comments

Popular posts from this blog

Pertama Kali Naik Gunung: Entah Mereka yang Gila atau Saya yang Bloon

Saya masih ingat malam itu di pertengahan tahun 2019. Ketika tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk melalui WhatsApp. Panggilannya singkat, bukan dari sales yang sedang menawarkan jasa pembuatan kartu kredit atau asuransi, bukan dari oknum yang mengaku-ngaku saudara untuk meminta uang karena sedang di kantor polisi, atau penelpon misterius yang menginformasikan saya menang undian berhadiah dan harus segera mentransfer biaya pajaknya. Melainkan panggilan ini berasal dari salah seorang teman kampus yang kurang lebih isinya begini: “Jau ikut muncak yuk.” “Gass, kapan nih?” “Mantull, nanti jam setengah 12 aku jemput ya.” Malam itu, saya sedang duduk santai di kamar indekos usai mengerjakan tugas kuliah. Sebagai seorang mahasiswa yang rajin, saya memang biasa tertib mengerjakan tugas. Semasa kuliah sering saya kerjakan tugas ketika hari esok deadline, biar tugasnya masih fresh pikir saya. Seringnya berkutat dengan kegiatan perkuliahan, sehingga saya rasa perlulah sekali-kali healing dengan ik...

Salam kenal!

Hallo,  Selamat datang .. Salam kenal dengan saya Indra penulis satu-satunya di blog ini. Blog yang sudah saya buat sedari pertama masuk kuliah ini memang sudah lama saya nonaktifkan. Bukan karena sengaja saya lakukan, tapi memang karena mood nulis belakangan sedang tidak bagus. Tapi di blog yang berniat saya kembangkan ini, kedepan akan saya isi dengan berbagai pengalaman saya dari berbagai sudut pandang. Semoga bermanfaat dan sering-seringlah mampir ya.  Selamat membaca!!! Terimakasih loh.

Rindu

Jika engkau temui hurufku berserakan di persimpangan bacaanmu, maka ambilah,  biarkan ia mengejanya, lantas engkau tahu rindu yang ingin aku sampaikan. Jogja, 18 April 2018