Skip to main content

Pertama Kali Naik Gunung: Entah Mereka yang Gila atau Saya yang Bloon

Saya masih ingat malam itu di pertengahan tahun 2019. Ketika tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk melalui WhatsApp. Panggilannya singkat, bukan dari sales yang sedang menawarkan jasa pembuatan kartu kredit atau asuransi, bukan dari oknum yang mengaku-ngaku saudara untuk meminta uang karena sedang di kantor polisi, atau penelpon misterius yang menginformasikan saya menang undian berhadiah dan harus segera mentransfer biaya pajaknya. Melainkan panggilan ini berasal dari salah seorang teman kampus yang kurang lebih isinya begini:

“Jau ikut muncak yuk.”

“Gass, kapan nih?”

“Mantull, nanti jam setengah 12 aku jemput ya.”


Malam itu, saya sedang duduk santai di kamar indekos usai mengerjakan tugas kuliah. Sebagai seorang mahasiswa yang rajin, saya memang biasa tertib mengerjakan tugas. Semasa kuliah sering saya kerjakan tugas ketika hari esok deadline, biar tugasnya masih fresh pikir saya. Seringnya berkutat dengan kegiatan perkuliahan, sehingga saya rasa perlulah sekali-kali healing dengan ikut mendaki gunung.


Ya mendaki gunung adalah keinginan saya sejak SMA, tapi selalu gagal manakala izin saya tidak di ACC oleh orang tua. Apa boleh buat, keinginan untuk bisa pergi kepuncak pun tak pernah hilang. Sebagai seorang anak yang tumbuh dan dibesarkan dengan nuansa perdesaan, wisata alam tetap menjadi primadona bagi saya sampai sekarang.


Usai obrolan singkat melalui panggilan malam itu, saya lanjut berdiskusi melalui pesan singkat di WhatsApp. Isinya tak lain menanyakan perlengkapan apa yang mesti saya bawa dan perihal rencana perjalanan yang telah dibuat. 


“Udah bawa aja seadanya, soal perjalanan aman jau.”


Singkat, padat, meskipun cukup tidak meyakinkan. 


Sial. Saya baru sadar, ini pertama kali saya akan mendaki gunung dan saya tidak tahu maksud dia meminta saya membawa seadanya. Saya bergegas berkonsultasi pada paman saya mengenai hal ini. Karena dialah yang biasanya paling tahu perihal keadaan saya yang sedang terdesak. 


Tanpa berfikir panjang saya langsung mengetik pertanyaan pada kolom “Search”. Benar saja, tak perlu waktu lama, paman saya untuk memberikan pencerahan “Cara bertahan hidup profesional untuk pendaki pemula”.  


Sederet jawaban pun langsung memberikan gambaran utuh bagaimana pendaki pemula seperti saya ini harus bersikap. Mulai dari perlengkapan yang harus dibawa, tips agar aman dari hipotermia, doa yang harus dibaca setiap melangkah, hingga posisi tidur yang nyaman dan menyehatkan saat pendakian pun ada.


Sebuah pesan masuk pun tiba-tiba mendarat lagi di ponsel saya. “Jangan lupa bawa pakaian hangat ya jau.” Saya sudah menduga jikalau dia akan mengirimkan pesan itu. Karena sesuatu yang cukup gila, jika ada orang yang melakukan pendakian tengah malam di gunung dan tidak membawa jaket. Ini sih antara nekat atau benar-benar bodoh ya. Dan saya hampir, namun sekarang sudah rada pintar.


….


Sekitar pukul 12 malam kurang, akhirnya mereka sampai di indekos saya. Kami pun berangkat dari Jogjakarta menuju Magelang ber-empat. Diperjalanan saya baru tahu kalo kami akan mendaki gunung andong. Lebih tepatnya mungkin bukit sih, karena setelah saya stalking tingginya hanya sekitar 1726 Mdpl.


Diperjalanan saja sudah merasakan hawa dingin yang begitu mencekam kala mendekati gunung andong. Beberapa gunung pun kelihatan sama-samar dikejauhan. Bahkan terlihat dari salah satu gunung yang terus mengeluarkan lava pijar hingga terlihat puluhan kilometer dari lokasi kami berdiri. Kalo kata teman saya itu adalah penampakan gunung Sindoro ketika malam pekat maka akan terlihat semakin jelas larvanya.


Karena menggunakan sepeda motor, kami bisa sampai lebih cepat. Hanya memerlukan waktu sekitar 3 jam dari Jogja sampai di basecamp pendakian gunung andong.


Seorang petugas pos meminta salah satu dari kami untuk melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian. Sedang sisanya diminta untuk menunggu didalam basecamp. Para pengunjung lain kian bermunculan dengan senyum sapa khas para pendaki. Ya mengangguk, lantas itu pergi.


Saat itu saya masih tidak habis pikir bisa disini dan sesaat akan melakukan pendakian ke puncak gunung. Belum terbesit dibenak saya sama sekali seperti apa rasanya mendaki gunung dan melihat bagaimana pemandangan yang menakjubkan disana. Karena yang saya tahu gunung itu tinggi sekali, “Naik-naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali”.


Saya berani taruhan anak-anak yang biasa menyanyikan lagu itu pasti tidak pernah tahu bahkan terbesit bahaya naik gunung itu seperti apa. Dan saya pun juga baru mau tau.


…..


Saat itu pukul 03.30 dini hari, dan kami bersama rombongan yang lain berangkat bersama memulai pendakian. Baru beberapa langkah kami sudah disuguhkan dengan hamparan kebun sayur milik warga. Tidak membutuhkan waktu lama kami sudah sampai di gapura bertuliskan “Pendakian Gunung Andong”.


Tidak jauh dari gapura tersebut pendakian sesungguhnya baru terasa karena track mulai curam, tidak seperti tadi yang cenderung datar karena area perkebunan. Sesekali bahkan kami berlarian untuk memanjat, konon kata salah seorang teman jika kita sampai lebih awal maka akan mendapatkan Golden sunrise. Istilah yang baru didengar pendaki amatiran seperti saya.


Saya tidak ingat betul momen-momen saat kami mendaki saat itu, yang saya ingat lelah dan kaki-kaki ini mulai keram. Tak membutuhkan waktu lama kami pun sampai di puncak gunung. Suasana ramai dipenuhi tenda-tenda yang berjajar dan beberapa orang yang tengah asik berfoto. Meskipun saya heran karena saat itu hari masih sangat gelap.


Salah seorang teman pun mengajak kami untuk mencari tempat yang datar. Dan gampang-gampang susah memang, mengingat lokasi yang cukup sempit dan kondisi masih gelap.


Saat saya sedang jongkok tiba-tiba keluar suara aneh tepat dibelakang punggung saya.


“Kopi mas?”


Saya pun perlahan membalikan badan dan melihat sekelompok pendaki menawari saya kopi. Lantas saya ingin langsung menjawab. “Top Cofee, Kopinya orang Indonesia”. Namun cuma mbatin. Karena saya sadar saya jongkok diatas tanah yang cukup tinggi dengan membelakangi mereka.


Saya pun meminta maaf dan langsung bergegas mencari teman kelompok yang rupanya sudah menemukan tempat strategis. Kami pun mulai menyiapkan makan pagi kami, kopi panas, dan menunggu legenda golden sunrise datang.


Tak perlu lama inilah keajaiban yang sering dicari para pendaki hingga mereka doyan naik gunung bahkan berkali-kali.




(golden sunrice)

…..


Saya tidak ingat betul kisah selanjutnya setelah kami melihat indahnya sunrise dipagi itu dari puncak gunung. Singkat cerita, kami mengabadikan foto bersama sebelum akhirnya memutuskan turun kala matahari mulai meninggi. Pemandangan perumahan penduduk di kaki gunung pun seketika sirna dengan hamparan awan putih menutupinya.


Kami berjalan terus hingga sampai di basecame, tak butuh lama untuk berkemas berkat dukungan pendaki profesional amatiran seperti saya akhirnya kami bisa segera bergegas untuk pulang ke Jogja.


Akhir cerita 3-4 hari kaki saya keram dan kesulitan untuk digerakan secara berlebih. Mungkin beginilah dampak tidak adanya persiapan ketika mendaki. Memang mereka yang sudah gila sedari awal merencanakan pendakian ini atau saya yang benar-benar bloon.


Comments

Popular posts from this blog

Salam kenal!

Hallo,  Selamat datang .. Salam kenal dengan saya Indra penulis satu-satunya di blog ini. Blog yang sudah saya buat sedari pertama masuk kuliah ini memang sudah lama saya nonaktifkan. Bukan karena sengaja saya lakukan, tapi memang karena mood nulis belakangan sedang tidak bagus. Tapi di blog yang berniat saya kembangkan ini, kedepan akan saya isi dengan berbagai pengalaman saya dari berbagai sudut pandang. Semoga bermanfaat dan sering-seringlah mampir ya.  Selamat membaca!!! Terimakasih loh.

Rindu

Jika engkau temui hurufku berserakan di persimpangan bacaanmu, maka ambilah,  biarkan ia mengejanya, lantas engkau tahu rindu yang ingin aku sampaikan. Jogja, 18 April 2018