Skip to main content

#2 Kataindera: Berinvestasi Pada Kenyamanan


Belakangan gue lagi banyak banget pekerjaan, yang hampir setiap hari seperti diberondong habis-habisan. Bekerja disalah satu e-commerce yang dibilang menjadi  salah satu idolanya warga +62 memang gampang susah. Apalagi saat menjelang event (1.1, 2.2, ..dst) dan setelahnya masih dikeroyok pekerjaan yang membabi buta. Maklum event seperti ini layak dipanggil hari belanja nasional bulanan. Biasanya paling ramai dari 8.8, 9.9, sampai 12.12 yang konon menjadi puncak hari netizen belanja.


Banyaknya kerja porsi WFH dari pada WFO tentu membuat gue lebih sering menghabiskan waktu berjam-berjam di rumah. Seringkali tidak terasa aktifitas tersebut membuat badan sakit semua lantaran seharian otot-otot tegang karena menanggung beban hidup badan.


Tak sampai disitu beban akan semakin terasa ketika mendekati tanggal tua. Maklum gue anak kosan yang hidup di ibukota tentu segala kebutuhan harus terencana. Lah gimana egga kalo tiba-tiba budget bulanan abis ditengah jalan. Bisa makan mie instant tiap hari dong gue. 


Tapi soal keuangan alhamdulillah gue cukup terencanakan dengan baik. Meskipun belakangan pengeluran tetep aja bocor lebih dari prediksi diawal. Tapi ya gimana lagi kan namanya juga belajar, orang pemerintah aja yang udah bukan waktunya belajar masih suka egga tepat prediksi. eh eh.


Lanjut, gue emang suka merencanakan, khususnya keuangan. Di media sosial apalagi sudah sangat tersebar mengenai trick bagaimana mengatur keuangan. Yang biasanya pasti ujung-ujungnya itu duit suruh diinvestasiin entah di reksadana, obligasi, ataupun saham. 


Media sosial khususnya youtube lengkap tuh ngajarin gimana keuangan kita bisa dikelola menjadi berlipat ganda. Bahkan banyak yang karena mengutamakan berlipat gandanya sampe ngelupain kalo sampai tahap itu ya perlu waktu belajar yang cukup. Tapi fenomena crazy rich mungkin sudah menjadi motivasi mereka. Sudahlah.


Pada dasarnya gue juga pengen kaya mereka punya uang di saham dan sejenisnya. Tapi seperti yang saat ini gue lakuin, uang gue ditabung dulu sebagai dasar financial management untuk dana darurat, abis itu baru deh rencana ke investasi.


Tapi ada sebuah insight yang belakangan mulai gue terapin. Kalo masih muda apalagi fresh graduated yang baru belajar banget janganlah buru-buru mengalokasikan uang di investasi saham. Apalagi kalo gaji lo masih standar bpjs, please karena kalo tiba-tiba saham anjlok, lo akan sulit tidur. Percaya deh.


Tapi mendingan uang itu buat invest ke barang yang buat kita nyaman untuk kerja atau buat nambah skill. Karena dari situ menurut perspektif gue ya soal resikonya. Kalo kita invest langsung ke instrumen investasi itu resikonya ya uang kita ilang, nah kita ya paling cuma akan dapet pengalaman dan jadi belajar. Sebenernya egga salah bestii, tapi…


Tapi kalo kita invest ke skill buat education, course atau ke barang-barang yang bisa membuat kita nyaman bekerja, resikonya ya selain kita dapat pengalaman dari uang yang kita pake, kita juga dapat knowladge baru. Atau kalo ke barang selain punya pengalaman ya kita bisa dapat kenyamanan, yang impact-nya bisa meningkatkan productivity.


Fokus ke barang yang bisa buat ningkatin productifity. Disini gue bisa kasih contoh misalnya gue yang belakangan kerja WFH memeutuskan buat beli kursi dan meja kerja yang nyaman. Mahal sih memang, gue alokasikan dana buat beli kursi aja bisa 25% gaji gue (tapi nabung dulu gue gais). Tapi dari kursi ini, gue jadi bisa lebih nyaman bekerja. Aseli ngaruh banget dari sebelumnya. Punggung gue jadi egga sering sakit :)


Atau lo yang kerja dibidang lain, misalnya traveller. Dengan lo beli tas carir yang agak mahalan, mungkin akan lebih memberikan lo kenyamanan saat pergi jauh dengan mengendong tas gede. Atau lo yang kerja jadi designer, dengan lo beli laptop yang support atau meningkatkan performa laptop akan berdampak ke kecepatan kerja lo. Selain ngebantu lo buat memudahkan pekerjaan, itu juga dapat meningkatkan mood lo saat bekerja.


Jadi gue cuma mau bilang investasi disini untuk membeli barang yang meningkatkan kenyamanan, sehingga produktifity kerja lo bisa naik. Gue sih selalu yakin dengan cepet uang yang kita keluarkan akan kembali dengan sendirinya. Asalkan kita tepat membeli barangnya dan tidak terjebak ke hal yang konsumtif.


Catatan, gue egga nyaranin kalo lo fokus hanya nabung dan nabung dengan investasi tadi buat nikah misalnya atau buat beli rumah dimasa depan. 


Eisstttt jangan salah kaprah ya, kaya nikah, rumah tentu penting. Tapi maksud gue jangan hanya berdasarkan gaji lo sekarang, tapi kembangin gajinya buat invest jangka pendek atau jauh yang menurut lo bisa mensupport tujuan. Caranya bebas, lo lebih suka peke yang mana dari penjelasan gue, atau kalo ada cari lain juga silahkan ya. Jangan lupa tinggalkan komentar dibawah. Aseek.


At least, ini my opinion aja yang saat ini gue pahami sebagai solusi. Next, kita bisa diskusi panjang soal ini. Oh iya ada tambahan, gue sempet pernah diskusi dengan salah satu temen. Hasilnya kurang lebih gini: 


Mengapa kita dari muda udah punya minset kalo kita akan jadi kaum menengah atau menengah kebawah dengan nambung sedikit demi sedikit berpuluh-puluh tahun buat beli rumah aja. Mengapa kita egga kembangin minset untuk jadi orang menengah keatas yang bisa beli rumah mungkin hanya perlu ngumpulin uang beberapa bulan atau bahkan minggu atau hari.” Nah lo.


Sekian dulu ya dari gue. Thanks udah mau luangin buat baca. Byeee.


Comments

Popular posts from this blog

Pertama Kali Naik Gunung: Entah Mereka yang Gila atau Saya yang Bloon

Saya masih ingat malam itu di pertengahan tahun 2019. Ketika tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk melalui WhatsApp. Panggilannya singkat, bukan dari sales yang sedang menawarkan jasa pembuatan kartu kredit atau asuransi, bukan dari oknum yang mengaku-ngaku saudara untuk meminta uang karena sedang di kantor polisi, atau penelpon misterius yang menginformasikan saya menang undian berhadiah dan harus segera mentransfer biaya pajaknya. Melainkan panggilan ini berasal dari salah seorang teman kampus yang kurang lebih isinya begini: “Jau ikut muncak yuk.” “Gass, kapan nih?” “Mantull, nanti jam setengah 12 aku jemput ya.” Malam itu, saya sedang duduk santai di kamar indekos usai mengerjakan tugas kuliah. Sebagai seorang mahasiswa yang rajin, saya memang biasa tertib mengerjakan tugas. Semasa kuliah sering saya kerjakan tugas ketika hari esok deadline, biar tugasnya masih fresh pikir saya. Seringnya berkutat dengan kegiatan perkuliahan, sehingga saya rasa perlulah sekali-kali healing dengan ik...

Salam kenal!

Hallo,  Selamat datang .. Salam kenal dengan saya Indra penulis satu-satunya di blog ini. Blog yang sudah saya buat sedari pertama masuk kuliah ini memang sudah lama saya nonaktifkan. Bukan karena sengaja saya lakukan, tapi memang karena mood nulis belakangan sedang tidak bagus. Tapi di blog yang berniat saya kembangkan ini, kedepan akan saya isi dengan berbagai pengalaman saya dari berbagai sudut pandang. Semoga bermanfaat dan sering-seringlah mampir ya.  Selamat membaca!!! Terimakasih loh.

Rindu

Jika engkau temui hurufku berserakan di persimpangan bacaanmu, maka ambilah,  biarkan ia mengejanya, lantas engkau tahu rindu yang ingin aku sampaikan. Jogja, 18 April 2018