Skip to main content

Mudik Lebaran di Tengah Arus Pandemi

Momen mudik tahun 2021 ini terbilang cukup unik. Mengingat pemerintah akhirnya mengijinkan mudik tahun ini. Setelah sebelumnya muncul rumor larangan mudik total seperti tahun lalu. Bahkan, isunya akan semakin di perketat. Saya sebagai anak rantauan cukup ngilu mendengar kabar demikian. Mengingat nasib tahun lalu yang antah berantah merasakan momen lebaran di kota orang, tanpa keluarga dan sanak saudara satupun. 

Ditambah lagi keadaan pandemi yang membuat kota berangsur-angsur sepi. Semua menjadi serba virtual. Saat ini, metode virtual meeting barangkali merupakan satu-satunya jalan pintas yang bisa saya tempuh. Namun, bersyukurnya tahun ini pemerintah melonggarkan aturan yang telah dibuat. 

Belakangan saya sudah pasrah jikalau diri ini harus tinggal di perantauan selama lebaran. Karena bagaimanapun waktu libur kampus mendekati expired aturan mudik. Barangkali saya akan menempuh jalan serupa seperti tahun sebelumnya. Setidaknya penggunaan platform aplikasi digital sudah mulai akrab ditengah masyarakat saat ini. 

Mendengar kabar mengenai masih ada hari dipembolehkan mudik saya langsung capcus tanpa pikir panjang mempersiapkan perjalanan. Mulai dari memilih moda ransportasi, nyari oleh-oleh, tes COVID-19 yang sekarang sudah ada Genose (tes paling murah sejagat raya, setau saya). Kenapa keburu-buru? Tau kan pemerintah bisa aja tiba-tiba merubah moodnya dengan ada aturan baru. 

Berbagai kebutuhan mudik sudah saya siapkan seperti rencana dan semua lancar-lancar. Tiba di hari mudik berlangsung saya datang cukup santai, mengingat jarak kosan cukup dekat dengan stasiun. Biasanya saya berangkat setengah jam sebelum keberangkatan, itu pun masih nunggu lama setelah cek in. 

Berdasarkan pengalaman, saya berencana berangkat ke stasiun mendekati jadwal pemberangkatan kereta. Bukan apa-apa, karena merasa percaya diri karena perbekalan sudah siap lebih cepat dibanding biasanya.

Waktu tersisa saya gunakan untuk pamitan ke teman-teman dan tetangga dekat yang biasa dijumpai. Pikir saya palingan ya sama aja kalo mudik, orang banyak yang tidak mudik karena masih jadwal kerja. Kan jadwal tenggang diperbolehkan mudik tidak sesuai sama jadwal libur kerja. Jadi ya santai aja pikir saya. (Jangan di contoh, perkiraan yang tidak baik) 

Saya pun berangkat ke stasiun kurang lebih setengah jam sebelum jadwal keberangkatan. Diantar temen kosan menggunakan sepeda motor saya meluncur menuju stasiun tujuan terdekat. Sampai sana kaget bukan kepalang, antrian untuk cek in ternyata panjang sekali.

 

Penumpang di tanggal 5 mei ini betul-betul membludak. Saya langsung turut mengambil antrian dibarisan belakang. Sesekali melihat antrian mencetak tiket. Ah, saya pikir tidak usah saja mencetak tiket lagian di depan bisa cuma scan barcode. Buat kalian yang belum pernah baik kereta saya sarankan kalo di situasi begini mending langsung aja. Karena di aplikasi sudah include barcode, dari pada harus ngikut antrian cetak tiket, harus mengantri lagi. 

Jeda berselang kurang 10 menit di jadwal saya tidak kunjung cek in. Malahan antrian masih panjang, sesekali saya tengok kebelakang, penumpang nampak semakin banyak. Berdenging pengumuman kalo kereta A sudah hendak di berangkatkan. Terlihat dibelakang lambaian tangan beberapa penumpang yang ternyata penumpang kereta A yang dimaksud. Mereka pun bergegegas mendapat antrian cek in lebih dulu. 

Saya pun akhirnya bisa cek in kurang 5 menit sebelum keberangkatan. Biasanya kereta sudah menunggu di waktu-waktu seperti ini. Tapi nampaknya momen seperti tadi terjadi juga di stasiun yang lain. Maklum, hari terakhir mudik jadi penumpang membludak. 

Tepat sesuai jadwal kereta yang akan saya tunggangi akhirnya datang. Saya naik kereta Joglosemarkerto untuk perjalanan Yogyakarta-Kutoarjo. Selanjutnya, akan disambung menggunakan Kutajaya Selatan untuk perjalanan Kutoarjo-Cilacap. Saya harus transit kurang lebih satu setengah jam di Kutoarjo menunggu kereta berikutnya. Kereta pertama saya cukup penuh lantaran jadi salah satu alternatif kereta untuk keluar dari keramaian kota Jogja.

Saya pun berhenti di stasiun Kutoarjo, dengan menenteng bawaan bergegas saya menuju antrian untuk cek in kembali. Saya sempat heran kondisi stasiun disana nampak sepi jauh sekali perbandingannya dengan kondisi stasiun di Yogyakarta. Saya santai mencari kursi kosong, karena hampir semua kursi masih tidak berpenghuni. Barulah mendekati keberangkatan orang-orang kembali berdatangan tapi masih tepat tidak seramai di Jogja tadi. 


Menunggu datangnya kereta ini pun berasa cukup lama. Selain itu, kondisi saat ini sedang puasa jadi tidak bisa menunggu sambil ngemil atau lainnya. Dengan berat hati saya hanya menunggu sembari memutar koleksi musik yang ada di ponsel. Sesekali membalas pesan WhatsApp yang masuk atau melihat Youtube. Terlihat gabut sekali memang saya ini. Ya beginilah nasib kalo kemana-mana sendiri.

Tak lama berselang, kereta yang saya tunggu-tunggu pun datang. Terlihat kereta yang akan saya tumpangi tangah datang berbarengan dengan pengumuman yang melengking. Kami para penumpang pun bergegas menuju kereta. Kereta yang saya tunggangi nampak menggunakan desain kereta lama Indonesia. 

Maklum, mau gimana lagi ya budget yang pas-pasan ini saya putuskan untuk menggunakan jenis kereta yang biasa-biasa aja. Selain karena jarak yang tidak terlalu jauh biasanya kelas ekonomi kalo dari sini banyak yang masih kosong. Udah lebih santai karena gak harus desak-desakan.

Alhasil saya mendapatkan bangku di paling ujung di gerbong tersebut. Dekat dengan kamar mandi, sebelahnya persis. Dalam kursi yang disusun berhadapan khas kelas ekonomi ini hanya ada saya seorang. Selebihnya dalam gerbong ini pun, terlihat banyak kursi kosong. Saya pun bebas berleha-leha sembari meluruskan kaki kedepan (fenomena kalo jadi penumpang kereta ekonomi nih). Sesekali tertidur menikmati perjalanan.


Naik kereta itu menyenangkan, kadang kita disuguhkan dengan panorama indah deket jendela. Kadang juga ada momen yang sering mengagetkan penumpang yang tertidur seperti saya. Misalnya, ketika berpapasan dengan kereta tepat di seberang jendela. Karena sama-sama dalam posisi cepat jadi seperti kilat dengan suara gojekan berdenging keras. 



Comments

Popular posts from this blog

Pertama Kali Naik Gunung: Entah Mereka yang Gila atau Saya yang Bloon

Saya masih ingat malam itu di pertengahan tahun 2019. Ketika tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk melalui WhatsApp. Panggilannya singkat, bukan dari sales yang sedang menawarkan jasa pembuatan kartu kredit atau asuransi, bukan dari oknum yang mengaku-ngaku saudara untuk meminta uang karena sedang di kantor polisi, atau penelpon misterius yang menginformasikan saya menang undian berhadiah dan harus segera mentransfer biaya pajaknya. Melainkan panggilan ini berasal dari salah seorang teman kampus yang kurang lebih isinya begini: “Jau ikut muncak yuk.” “Gass, kapan nih?” “Mantull, nanti jam setengah 12 aku jemput ya.” Malam itu, saya sedang duduk santai di kamar indekos usai mengerjakan tugas kuliah. Sebagai seorang mahasiswa yang rajin, saya memang biasa tertib mengerjakan tugas. Semasa kuliah sering saya kerjakan tugas ketika hari esok deadline, biar tugasnya masih fresh pikir saya. Seringnya berkutat dengan kegiatan perkuliahan, sehingga saya rasa perlulah sekali-kali healing dengan ik...

Salam kenal!

Hallo,  Selamat datang .. Salam kenal dengan saya Indra penulis satu-satunya di blog ini. Blog yang sudah saya buat sedari pertama masuk kuliah ini memang sudah lama saya nonaktifkan. Bukan karena sengaja saya lakukan, tapi memang karena mood nulis belakangan sedang tidak bagus. Tapi di blog yang berniat saya kembangkan ini, kedepan akan saya isi dengan berbagai pengalaman saya dari berbagai sudut pandang. Semoga bermanfaat dan sering-seringlah mampir ya.  Selamat membaca!!! Terimakasih loh.

Rindu

Jika engkau temui hurufku berserakan di persimpangan bacaanmu, maka ambilah,  biarkan ia mengejanya, lantas engkau tahu rindu yang ingin aku sampaikan. Jogja, 18 April 2018