Skip to main content

Pengalaman diselamatkan Starbucks

Malam itu merupakan jadwal penerbangan rute dari Medan ke Yogyakarta, setelah sekian lama jadwal penerbangan saya mesti ditunda-tunda karena pandemi Covid-19. Akhirnya saya bisa berangkat juga hari itu saat kondisi yang mulai membaik. Saya tidak sendirian, bersama 2 orang teman yang sejak awal membersamai dalam acara ini.

Sabtu, 3 April 2021 akhirnya saya bisa menghirup udara segar karena tiket berhasil saya dapatkan. Hanya saja, jadwal keberangkatan pesawat pukul 20.25 WIB. Artinya sampai Jakarta pukul 23.10 WIB dan perjalanan selanjutnya ke Jogja baru esok hari pukul 09.20 WIB. Kenapa lama sekali transitnya? Maklum mengingat budget yang terbatas kami memilih tiket tersebut agar bisa menikmati suasana bandara lebih lama.

 Alhasil, berangkatlah kami dari Bandara Internasional Kualanamu. Perjalanan kami terhitung cukup lama. Karena harus memakan waktu sekitar dua setengah jam melayang di udara. Dari ketinggian kami dapat melihat pemandangan kota medan di malam hari yang cantik rupawan.



Singkat cerita, berdasarkan pengalaman kalo perjalanan dua jam-an atau lebih, penumpang akan diberi makanan atau snack berat. Buktinya perjalanan kami yang hanya satu jam dari Jogja-Jakarta saja dikasih snack ringan. Selanjutnya saat perjalanan Jakarta-Medan kami bahkan dapet makan berat. Lumayan makan siang serasa di restoran berbintang kan, menikmati makan sembari ditemani awan-awan. Meskipun rasanya sih aih bukan selera lidah anak kosan seperti saya. 

Sembari melihat pemandangan malam dari sebrang jendela, saya mendengar suara samar-samar menyahut. Sambil n̶a̶h̶a̶n̶ ̶l̶a̶p̶e̶r̶ menikmati perjalanan ada pengumuman kalo makanan akan segera datang. Bergegaslah saya menyiapkan meja didepan, itung-itung bantuin kerjaan pramugari kan ya. Tapi niat ikhlas beramalku bak jargon di Kemenag mendadak berubah. Karena sepertinya tidak ada pergerakan dari kereta makan yang biasanya didorong pramugari. Saya lantas menerka nerka mungkin saja itu hanya untuk penumpang kelas business, tapi nyatanya pesawat yang kami naiki hanya ada satu kelas saja. Aneh bukan, hantu mana yang berniat ikut penerbangan ya.

Nah saya pikir malam itu di penerbangan ini kami juga akan dapet makan. Kami sepakat untuk tidak mencari makan malam ketika di Medan karena biar bisa menikmati jatah makan di pesawat. Sayang kan mubadzir. Ah, sepertinya pengumuman tadi cuma halu, kayaknya sih petugasnya lagi melakukan pekerjaan frelance sebagai seorang youtuber yang lagi buat konten ngprank. Biasa kan ya konten jaman sekarang lebih laris konten begituan dari pada konten-konten edukasi atau semacamnya. Akhirnya berbekal  p̶e̶r̶u̶t̶ ̶k̶o̶s̶o̶n̶g̶ rasa tenang, saya memutuskan untuk tidur saja.

Tidak terasa sampailah kami di bandara Soekarno Hatta, kami turun mengikuti arah kedatangan penumpang yang baru saja tiba. Dan kalian tahu, kalo jalan di Bandara yang konon Terbesar di Indonesia itu panjangnya Masyaalloh. Serasa saya sudah kaya jalan muterin lapangan. Dari tempat kami keluar pesawat terlihat lorong panjang yang begitu pasti ujungnya pun masih keliatan samar-samar. Itupun masih ditambah nanti naik ke lantai 3, karena ruang tunggu penumpang transit informasinya ada disana.

Lamanya jadwal transit di bandara Ibukota Negara itu, menunjukan bahwa malam itu kami harus menunggu semalaman sampai pemberangkatan berikutnya di esok hari. Akhirnya berbekal p̶e̶r̶u̶t̶ ̶k̶o̶s̶o̶n̶g̶ rasa percaya diri, saya berjalan menyusuri lorong tersebut. Rasanya senang sekali berhasil melewati cobaan pengalaman yang super ini. Hal pertama yang saya cari diruang transit adalah kedai penjual minum. Titik. Tapi dari semua penelusuran yang saya temui cuma ada satu kedai yang buka. Entah kenapa bestie alfamart/indomart, toko harapan anak kos seperti saya ini telah sirna dibalik standing closed.

Tanpa pikir panjang saya menghampiri satu-satunya kedai yang bertuliskan “Starbucks” tersebut. Satu demi satu tulisan harga didaftar menu mulai saya perhatikan dengan seksama. Berharap ada yang ramah dengan kondisi dompet saya saat itu. Perlahan namun pasti, niat saya mulai ciut mengentayangi menu dipapan. 

Selain karena harga produk starbucks terkenal tidak efisien di kantong anak kos, aspek pengaruh bandara ternyata cukup signifikan mempengaruhi harga. Kalo dilihat dengan seksama minuman paling murah disini jika dibandingkan warung sebelah kampus, bisa untuk makan ayam geprek plus es teh tiga kali. Akhirnya dengan perasaan penuh percaya diri saya memutuskan untuk melaksanakan sholat maghrib jamak isa terlebih dahulu dan memikirkan untuk kembali lagi nanti.

Sebenarnya usai sholat ini saya sempat terfikirkan untuk tidur agar badan lebih enakan setelah perjalanan jauh. Tapi, entahlah rasa haus nampaknya makin menjadi-jadi. Tanpa piker panjang segelas tea satarbuck akhirnya mendarat di meja saya. Untuk pertama kalinya saya diselamatkan oleh Starbucks. Thanks to starbuck, ehehe. Dan beginilah hasilnya.



Comments

Popular posts from this blog

Pertama Kali Naik Gunung: Entah Mereka yang Gila atau Saya yang Bloon

Saya masih ingat malam itu di pertengahan tahun 2019. Ketika tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk melalui WhatsApp. Panggilannya singkat, bukan dari sales yang sedang menawarkan jasa pembuatan kartu kredit atau asuransi, bukan dari oknum yang mengaku-ngaku saudara untuk meminta uang karena sedang di kantor polisi, atau penelpon misterius yang menginformasikan saya menang undian berhadiah dan harus segera mentransfer biaya pajaknya. Melainkan panggilan ini berasal dari salah seorang teman kampus yang kurang lebih isinya begini: “Jau ikut muncak yuk.” “Gass, kapan nih?” “Mantull, nanti jam setengah 12 aku jemput ya.” Malam itu, saya sedang duduk santai di kamar indekos usai mengerjakan tugas kuliah. Sebagai seorang mahasiswa yang rajin, saya memang biasa tertib mengerjakan tugas. Semasa kuliah sering saya kerjakan tugas ketika hari esok deadline, biar tugasnya masih fresh pikir saya. Seringnya berkutat dengan kegiatan perkuliahan, sehingga saya rasa perlulah sekali-kali healing dengan ik...

Salam kenal!

Hallo,  Selamat datang .. Salam kenal dengan saya Indra penulis satu-satunya di blog ini. Blog yang sudah saya buat sedari pertama masuk kuliah ini memang sudah lama saya nonaktifkan. Bukan karena sengaja saya lakukan, tapi memang karena mood nulis belakangan sedang tidak bagus. Tapi di blog yang berniat saya kembangkan ini, kedepan akan saya isi dengan berbagai pengalaman saya dari berbagai sudut pandang. Semoga bermanfaat dan sering-seringlah mampir ya.  Selamat membaca!!! Terimakasih loh.

Rindu

Jika engkau temui hurufku berserakan di persimpangan bacaanmu, maka ambilah,  biarkan ia mengejanya, lantas engkau tahu rindu yang ingin aku sampaikan. Jogja, 18 April 2018